Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 2

Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 2

Oleh Herdi Pamungkas
“Belum paham apanya, keparat!” teriaknya, matanya berputar mencari pemilik suara. Semakin dicari, semakin memusingkan.
“Bukankah sudah saya katakan, andaikan hati kisanak dalam keadaan tenang. Tentu akan memahami semuanya….dengan siapa kisanak bicara? Dengan siapa kisanak berhadapan?”
“Andika ini Iblis, Jin, Makhluk Ghaib, ataukah Sihir Syekh Siti Jenar?”
“Cari saja sendiri siapa saya. Bukankah kisanak memiliki kesaktian? Itu pun andai tidak mau menuruti nasihat saya untuk membuka mata hati. Saya kira olahkanuragan dan ilmu kadigjayaan bukan tempatnya untuk menemukan saya. Apalagi membuka mata hati, karena di depan ilmu kadigjayaan yang ada hanya musuh secara lahiryah….”
“Diam! Jika andika pengecut dan takut pada ilmu kadigjayaan saya mana mungkin mau menampakan diri.”
“Ha..ha…masa orang sakti dan digjaya tidak bisa menangkap dan menemukan saya?”
“Huhhhh…keparat!” dengan kemarahan yang semakin menjadi, telapak tangannya yang mengeluarkan tenaga dalam menghantam pepohonan secara membabi buta.
Krakkkkk, brukkk, beberapa pohon roboh bertumbukan dengan lainnya. Hiruk-pikuk yang disebabkan kemarahan Pangeran Modang mulai mengusik heningnya suasana di Padepokan Syekh Siti Jenar.
“Ha..ha…makhluk dungu macam apa kisanak ini? Mengapa merusak pepohonan yang tiada berbuat salah pada kisanak. Apakah kisanak mau menakuti saya dengan cara merusak pohon? Bukankah kisanak ingin menangkap dan menemukan saya? Jika itu yang diperbuat kisanak hanya semakin menciptakan jarak antara yang mencari dan yang dicari…haha…”
“Haaaakkkk…hiaaaattt!” semakin kencang terjangannya, tenaga pun berlipatganda diarahkan pada sasaran kemarahan.

“Itulah mimpi yang saya alami, Kanjeng. Sangat lama dan melelahkan.”
“Pangeran, mimpi itu sebuah gambaran.”
“Saya tidak paham, Kanjeng? Mengapa mimpi itu masuk ke dalam pikiran saya?”
“Bukankah mimpi itu bisa masuk ke alam pikiran siapa saja? Bukankah dalam pertemuan yang dipimpin Raden Patah Pangeran juga turut serta?”
“Ya, waktu Gusti Sinuhun memutuskan untuk mencari tahu keberadaan Syekh Siti Jenar….”
“Bukan hanya mencari tahu tapi menyelidiki mengenai perilaku sesatnya sejauh mana…”
“Ya, Kanjeng. Bukankah sekaligus menangkapnya? Itu pun berdasarkan restu Kanjeng Sunan Giri selaku Ketua Dewan Wali. Untuk diadili dan diminta pertanggungjawabannya.”
“Pangeran ternyata sudah mendahului kita menemui Syekh Siti Jenar….”
“Menemui? Bukankah itu hanya dalam mimpi?”
“Sudah saya katakan tadi. Mimpi itu sebuah gambaran, meski tidak setiap mimpi berupa firasat atau ilham. Mimpi yang Pangeran alami tidak akan berbeda jauh dengan yang akan kita lakukan….”
“Benarkah itu, Kanjeng?”
“Ya, lihat saja nanti….”
Pangeran Modang menghela napas dalam-dalam, tubuhnya yang telah bermandikan keringat merasa lemas. Hampir seluruh tenaganya terkuras akibat amukannya yang membabi buta, merobohkan pohon-pohon tanpa dosa.
“Ternyata yang dikatakan Kanjeng Sunan Kalijaga telah aku alami. Tidak jauh berbeda dengan mimpi yang aku ceritakan kepada beliau. Mengapa aku tidak antisipasi tentang kebodohan ini?” erangnya.
Berusaha menyeret kakinya, terasa dadanya semakin sesak. Naik menuju Padepokan Syekh Siti Jenar, menemui para wali dan Pangeran Bayat yang belum juga turun.

Padepokan Syekh Siti Jenar telah kosong. Tiada ada tanda-tanda manusia apalagi bekas pertarungan. Pohon berdiri tegak dengan daun-daun rimbun, pelataran tak tersentuh sehelai daun kering pun yang terjatuh.
“Hening?” Pangeran Modang memandang setiap sudut, “Aneh? Bukankah rombongan dari Demak tadi di sini?”
Mengitari bangunan yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya pengikut Syekh Siti Jenar. Tiada seorang pun, pintunya tertutup rapat.
“Mengapa ini terjadi? Apakah saya berada dalam mimpi ataukah alam nyata?” mencoba menapar pipinya, “Aduhhhh…”
Pangeran Modang mengelus pipinya yang telah memerah kena tampar. Pikirannya berusaha menerjemahkan yang dialaminya. Jari-jemarinya berkali-kali meremas kepala yang tertutup blangkon. Kerut keningnya berlipat tiga.
Setengah menjatuhkan pantatnya duduk di halaman, punggung disandarkan pada pohon damar yang tinggi menjulang. Matanya sekuat tenaga dipejamkan. Pandangan mulai lenyap selain gelap yang menyelimuti.
Berusaha meredakan amarahnya yang terus bergolak, mencari ketenangan dan keheningan jiwa sehening keadaan sekitarnya. Angin sepoi-sepoi pegunungan membuka pori-pori yang terbakar api amarah, masuk merembas mendinginkan.
Dalam keadaan jiwa tenang, alur amarah mulai terkendali. Perlahan keaadaan yang terbakar amarah semakin tenang. Telinga Pangeran Modang mulai mendengar suara-suara yang berbincang. Terompah semakin mendekat, terasa bahu kirinya berada dibawah genggaman tangan yang kuat.
“Dimas, Apa yang telah terjadi?”
Matanya perlahan dibukakan, tertuju pada pemilik suara. Betapa terkejutnya ketika melihat orang yang berdiri disampingnya.
“Kang Mas, mengapa tanganmu berlumuran darah?” terperanjat.
“Mana darah ?” mengerutkan kening, pandangannya tidak beranjak dari wajah pucat pasi ketakutan.
“Tangan, wajah, tubuh kakang berdarah…? Mengapa Kakang tidak merasakan sakit? Sebaliknya malah bertanya?” semakin menjauhi.
“Dimas?” yang ditanya semakin bingung, berkali-kali memandang tangan serta tubuhnya lalu menatap lagi.
“Apakah Syekh Siti Jenar yang melukai Kakang? Lalu dimana rombongan kita?”
“Aneh?” Pangeran Bayat gelengkan kepala. “Apa sebenarnya yang telah terjadi, Dimas? Tidakah melihat rombongan kita berada di atas bukit?”
“Kakang yang aneh? Sedang apa mereka di atas bukit? Bukit yang mana?”
“Dimas? Bukankah mereka sedang menyaksikan pertarungan Syekh Siti Jenar dengan Kanjeng Sunan Kalijaga? Mengapa dimas lupa?”
“Jangan mendekat! Darah itu, darah itu, mengapa kakang tidak merasakan sakit?”
“Darah yang mana? Siapa pula yang berdarah-darah?” berusaha meraih bahu, “Jangan menjauh!”
“Tidak….” terpeleset, jatuh telenlang di atas rumput hijau.
“Rupanya pingsan?” telapak tangannya mengusap kening, terasa panas. “Sakitkah dia?” mencoba mengingat sebelum peristiwa terjadi. Terbayang ketika Pangeran modang mengikat sebongkah gedebog pisang lalu memukuli serta menyeretnya sendiri menuruni padepokan.
“O, itu rupanya. Tapi mengapa dia berbuat aneh…?”

Tubuh telentang dibaringkan di pelataran Padepokan. Berlari menemui rombongan Demak yang berada di atas bukit. Menghampiri Sunan Kudus dengan tasbih di tangan kiri serban serta jubahnya berkelebatan ditiup angin. Pandangannya tertuju ke dinding batu padas.
“Kanjeng,”
“Pangeran?”
“Ketiwasan.”
“Ketiwasan? Bukankah pertarungan masih berlangsung? Hanya sayang mata batin saya tidak sanggup menembus batu padas.”
“Maksud saya bukan mereka.”
“Lalu?”
“Dimas Modang, Kanjeng.”
“Kenapa dengan dia? Bukankah dari tadi telah menuruni bukit mengikat sambil memukuli gedebog pisang?”
“Dia kini pingsan. Selain berperilaku aneh…” Pangeran Bayat menjelaskan.
“Celaka! Mari kita hampiri!” langkah Sunan Kudus mendahului Pangeran Bayat menuruni bukit.
“Itulah Kanjeng! Dia belum sadarkan diri.” memegang pergelangan tangannya.
“Aneh, Pangeran?” berjongkok.
“Harus segera disadarkan,”
“Ya, tentu.” telapak tangan Sunan Kudus mengusap muka sang pangeran bibirnya komat-kamit.
“Aaaa…apa!” tersentak, sorot matanya beringas beradu dengan sang wali. “Andika Syekh Siti Jenar? Mau membunuh saya?”
“Kanjeng?”
“Pangeran saya juga kurang paham,”
“Andika muridnya Syekh Siti Jenar, mau mengeroyok saya?” bangkit, mundur beberapa langkah, tangan kanannya menggenggam kepala keris yang masih tersarung.
“Kanjeng, tampaknya dia masih belum mengenali kita.”
“Benar,”
“Apa yang harus kita lakukan jika tiba-tiba menyerang?”
“Mundur kalian! Jika tidak akan saya habisi!” keris terhunus dalam genggaman kuat kedua tangannya, diacungkan di depan muka.
“Dugaan saya benar. Dia menyerang,” mundur beberapa langkah, “Haruskah melawanya?”
“Jangan! Dia tidak menyadari akan perbuatannya.”
“Tapi, hait…” berusaha loncat menghindari sabetan keris. “Bagaimana, Kanjeng?”
“Temui Kanjeng Sunan Bonang!”

“Tidak perlu beranjak, Pangeran.”
“Kanjeng?” tercengang, melihat Sunan Bonang telah berada dibelakangnya.
“Kanjeng Sunan Bonang?”
“Menyingkirlah!”
“Tapi dia menghunus keris?”
“Saya tahu,”
“Baiklah, hati-hati Kanjeng!”
“Syekh Siti Jenar dan muridnya ketakutan…” gegamannya semakin kuat, keris bergetar, “…kalian akan kucabik-cabik makhluk sesat!”
Ujung keris menyambar dada Sunan Bonang yang tak beranjak. Pemandangan mengerikan menyebabkan merindingnya bulu kuduk Pangeran Bayat dan Sunan Kudus, keduanya tidak kuasa menahan tatap. Apalagi mereka paham keris Pangeran Modang, selain mengandung racun bukanlah senjata sembarangan.
Ketika kembali keduanya membuka pandang, tercengang terkaget-kaget. Pangeran Modang sudah duduk bersimpuh dihadapan Sunan Bonang, bahu kananannya berkali-kali ditepuk.
“Itulah yang telah terjadi pada diri Pangeran,”
“Mengapa saya harus mengalami kejadian yang sangat menghinakan dan memalukan?”
“Ketahuilah, Pangeran! Kita tengah berada di padepokan
Syekh Siti Jenar.”
“Saya tahu. Mengapa itu terjadi?”
“Ya, karena kita berada di padepokan ini.”
“Lantas apa kaitannya dengan peristiwa yang saya alami?”
“Sadarilah Pangeran, ilmu batin yang dimiliki lawan kita meliputinya.”
“Jadi saya kena pengaruh sihirnya? Mengapa harus saya? Sementara yang lainnya tidak?”

“Bukan sihir, tetapi kebatinan yang sempurna. Mengenai Pengeran sementara yang lain tidak. Karena diri Pangeran saat memasuki Padepokan dan berhadapan dengan Syekh Siti Jenar telah diliputi nafsu amarah, yang sebetulnya bisa menggelapkan mata batin.”
“Saya kurang paham, Kanjeng?”
“Semakin bernafsu pada Syekh Siti Jenar maka pengaruhnya semakin kuat pula menggiring Pangeran dalam situasi linglung.”
“Ah, saya tidak terlalu yakin jika Syekh Siti Jenar tidak menggunkan sihir.”
“Tidak mengapa seandainya Pangeran kurang percaya.” Sunan Bonang telah lenyap dari hadapan Pangeran Modang.
“Kanjeng? Kemana?” menoleh ke kanan kiri, tinggal Sunan Kudus dan Pangeran Bayat yang bersamaan mengusap wajah selesai istigfar.
***
Mereka semakin menguatkan barisan. Kekacauan yang sengaja dihembuskan telah meracuni sebagian rakyat miskin. Paham itu menyebar dengan cepat laksana tiupan angin, mereka tidak berpikir terlalu jauh langsung menerima, disamping keawaman serta ketidakmapanannya.
Padahal pemahaman yang disebarluaskan para pemberontak berbeda dengan pemahaman murid Syekh Siti Jenar lainnya. Ki Chantulo, Ki Donoboyo, apalagi Kebo Kenongo.
“Ki Angeng Pengging? Mengapa kekacauan ini terjadi? Pada ujungnya semua kesalahan ini ditujukan pada guru kita…” raut muka cemas Ki Chantulo mendongak ke arah Kebo Kenongo.
“Benar Ki Ageng, bukankah guru kita tidak mengajarkan kekacauan ini.”
“Yang kisanak katakan semuanya tidak salah.” mendekati Ki Donoboyo sedang duduk di atas hamparan tikar pandan.
“Bukankah dalam setiap perjalanan menuju kebaikan tidak selamanya akan menemui kelancaran…”
“Saya mengerti akan hal itu, Ki Ageng. Namun kesalahan dan kekacauan ini mengapa harus guru dan kita yang dipersalahkan. Tidakah mereka mengerti serta tahu duduk perkara yang sesungguhnya?”
“Entahlah,” lalu duduk disamping Ki Donoboyo. “Saya pun baru mendengar kabar yang simpang siur. Tetapi tidak perlu khwatir seandainya kita dianggap salah oleh manusia. Bukankah Allah Maha Tahu.”
“Ki Ageng, tidakah kita harus meluruskan persoalan yang sesungguhnya terjadi?”
“Siapa yang akan mendengar cerita kita? Bukankah kita ini hanya rakyat jelata? Bukankah demikian, Ki Ageng?”

Kebo Kenongo bangkit, mulutnya terkatup rapat. Tangan kanannya menengadah ke langit, menangkap helai daun kering yang jatuh tertiup angin.
“Lihatlah ini, saudaraku?”
Keduanya menatap gerak-gerik Kebo Kenongo, keningnya berkerut-kerut. Seakan penuh tanya.
“Daun kering,”
“Maksud, Ki Ageng?”
“Apa bedanya dengan keberadaan kita. Pada suatu ketika akan mengalami hal yang sama, tentunya hanya soal waktu. Kapan dan dimana, hanya hembusan angin yang menggiringnya. Tapi lihatlah di atas sana?”
“Daun hijau dan yang telah kering menunggu jatuh tertiup angin….”
“Bukankah tidak selalu yang telah kering yang bisa tanggal dari ranting. Lihat pula daun yang masih hijau dan terkadang terlihat kokoh bisa lepas juga dan terjatuh. Semuanya tergantung kekuatan angin yang sangat keras datang dari arah mana dan sanggup menanggalkannya, selain ulah binatang, atau manusia penebang kayu. Mereka bisa roboh bersaaman tanpa kecuali.”
“Seperti bencana, Ki Ageng. Dia datang tidak memilah dan memilih bukan?” Ki Donoboyo mencoba mengikuti ucapan kaka seperguruannya.
“Begitulah kiranya. Adakah kita kekuatan untuk menghindar?”
“Bukankah kita berbeda dengan helai daun? Kita manusia yang memiliki daya dan upaya.”
“Tidak salah yang andika katakan. Sejauh mana kekuatan manusia andai kita memiliki kesaktian, bahkan kekuasaan. Bukankah mereka yang sedang berada dalam kekuasaan pun sedang resah?”
“Resah?”

“Dalam hati kecil manusia yang sedang berada dalam tampuk kekuasaan sudah barang tentu akan terselip perasaan resah. Mereka sadar kekusaan itu pada suatu ketika akan ditanggalkan, secara terpaksa atau pun tidak dengan beragam sebab dan alasan.” Kebo Kenongo perlahan bangkit, “Hanya penguasa yang iklaslah yang tidak merasakan resah akan hilangnya tahta. Awal keberangkatannya pun bukan karena mengejar kekuasaan dan megahnnya dunia. Tetapi semuanya karena niat ikhlas Allah semata. Hingga orang demikian tidak akan pernah bermegah-megah selama rakyatnya masih dalam
garis kemiskinan, terkadang rela melepas segala yang dimiliki…”
“Kayaknya tidak ada pemimpin yang demikian pada jaman kini?”
“Jarang menemukan pemimpin seperti halnya Khalifah Umar bin Khatab, beliau
sangat bersahaja…..”
“Benar kiranya, Ki Donoboyo?”
“Bukankah alasan sesungguhnya Raden Patah pun sedang dalam keadaan resah, Ki Ageng?”
“Saya kurang tahu serta tidak mau tahu dalam hal ini, Ki Chantulo.”
“Tidak mengapa. Itu hanyalah dugaan saya. Akibat dari keresahan akan tergulingnya dari tampuk kekuasaan, mereka berusaha untuk menyeret guru kita Syekh Siti Jenar ke pengadilan?”
“Ah, rasanya itu keliru!”
“Dimanakah letak kelirunya, Ki Ageng?”
“Tuduhan itu. Kabar itu pun belum saya yakini kebenarannya, bukankah kita semua tahu? Guru kita sedikit pun tidak memiliki keinginan untuk memasuki gemerlapnya dunia. Bukankah kemewahan dan kemegahan hanya akan menjadi pengganggu bagi kekhusuaan kita.”
“Saya juga meyakini demikian, Ki Ageng.” tatap Ki Donoboyo, “Rasanya Guru kita tidak pantas dituduh selaku otak pemberontak atau yang mencuptakan segala kekacauan di negeri Demak Bintoro, apalagi berencana menggulingkan Raden Patah.”
“Ya, karena kita tahu siapa Syekh Siti Jenar guru kita? Seandainya mereka tidak mengenal beliau?”
“Itulah yang akan menyebabkan fitnah,”

“Lantas sesungguhnya memang ada orang yang berencana ingin merampas kekuasaan dari tangan Raden Patah?”
“Bisa ya, bisa juga tidak….”
“Mengapa dugaannya demikian?”
“Kecurigaan biasanya muncul dari perasaan takut. Barang tentu akan mencurigai siapa saja yang patut dicurigai, lalu dipertautkan satu sama lain. Andai pertautan itu ada mata rantai yang terputus, maka tentu saja yang terputus itu terkadang dipaksakan menurut lamunannnya….”
“Mungkinkah karena Ki Ageng Pengging sendiri masih keturunan Majapahit, sudah tentu berdarah biru. Setidaknya kedekatannya dengan guru kita?”
“Entahlah,”
“Lalu…”
“Jika tidak mencurigai dan tidak takut kehilangan maka akan berlaku tenang. Bukankah segala sesuatu yang berada pada genggaman manusia pada suatu ketika akan kembali diambil pemiliknya, termasuk jiwa manusia itu sendiri?”
“Tentu saja kita paham itu, Ki Ageng.”
“Andai mereka paham yang kita pahami tentu akan berlaku tenang, sudah tidak perlu lagi mencurigai apalagi melakukan penangkapan…..”
“Sudahlah! Bukankah kita pun salah?”
“Apa kesalahan kita? Kita tidak punya niat sedikitpun untuk menggulingkan kekuasaan bukan?”
“Benar. Maksud saya salah karena telah berburuk sangka…”
“Saya kira bukanlah berburuk sangka tetapi menduga-duga tujuan mereka yang selalu menyeret-nyeret kita untuk dipersalahkan.”

“Benar, Ki Ageng. Saya sependapat dengan Ki Donoboyo. Tidak semestinya kita berdiam diri terus….”
“Berdiam diri atau tidak bukanlah persoalan besar. Jangankan gerak-gerik kita, selembar daun jatuh pun tdak terlepas dari kekuasaan Tuhan….”
“Bukankah kita diharuskan berikhtiar?”
“Berikhtiarlah jika itu yang ingin Kisanak lakukan….”
“Ki Ageng sendiri?”
“Saya memilih mengikuti mata batin yang saya lihat….”
“Diamkah?”
“Mengikuti mata batin.”
Ki Chantulo dan Ki Donoboyo saling tatap seakan-akan berusaha memaknai, memahami yang dikatakan Kebo Kenongo. Keduanya tiada juga menemui, hingga berlama-lama merenungkan.
Hembusan angin mengusik jubah mereka, berkelebat-kelebat berlomba dengan suara gemirisiknya dedaunan. Batin mereka mengembara mencari tahu tentang segala hal yang perlu diketahuinya.
Betapa sulit mengikuti pengembaraan batin Kebo Kenongo, keduanya seakan tidak sanggup melampaui. Hingga beranjak dari ketinggian melemaskan kaki di atas tikar pandan.
“Tidak semestinya Kisanak mengikuti batin saya….” tatap Kebo Kenongo, menghampiri.
“Saya tidaklah mungkin menduga-duga,”
“Kami tidalah setarap dengan Ki Ageng.”
“Kita sama sebagai makhluk Tuhan yang lemah. Pencapaian bukan pembeda derajat manusia….”

“Pembeda derajat manusia kedudukan, kekayaan, baju yang dikenakannya…..”
“Itu pembeda pada pandangan kasat mata manusia,”
“Itulah kenyataan, Ki Donoboyo. Hingga kita pun menjadi takluk pada penguasa untuk tidak berani mengatakan bahwa yang benar itu benar, salah itu salah. Bukan begitu Ki Ageng?”
“Benarlah Ki Ageng yang dikatakan Ki Chantulo? Kita hanya segan, takluk dan berlutut pada mereka yang mengenakan baju kebesaran. Sementara ketidakberanian itu tidak akan pernah bisa mengungkapkan kebenaran yang kita yakini…..”
“Kebenaran itu milik yang Maha Benar.” Kebo Kenongo seakan enggan berbicara.
“Bukankah kebenaran itu terletak pada aturan?”
“Jika kebenaran terletak pada aturan yang dibuat manusia bukanlah mutlak tetapi yang senantiasa berubah-ubah. Penundukan pada sesama manusia karena lemah dan tertindas. Seperti halnya kita bukan, Ki Ageng?”
“Mungkin saja,”
“Mengapa Ki Ageng ragu pada ilmu yang andika miliki?”
“Sama sekali bukan karena meragukan ilmu. Hanya apakah harus persoalan ini saya ungkapkan, sementara urusan batin manusia tidaklah sama?”
“Meskipun tidak sama sampaikanlah, Ki Ageng. Setidaknya kami bisa memaknai.”
“Baiklah. Benarlah di dunia ini masih berlaku hukum yang terkadang tiada dalam tulisan, manusia miskin harus menghormati yang kaya, kepangkatan, jabatan, baju kebesaran, gagahnya kuda yang ditunggangi dan lain sebagainya. Terpaksa atau pun tidak. Sedangkan kasta-kasta itu hanyalah diciptakan manusia juga. Bukankah Tuhan tiada membedakan manusia berdasarkan hal tadi, apalagi warna kulit, rupawan atau tidak rupawan?”

“Benar, semuanya hanya manusia yang mengada-adakan.”
“Jika itu menurut andika benar, maka begitu pula menurut banyak orang . Tidak perlu heran banyak yang mengejar kedudukan, kekayaan bahkan menjadi raja sekali pun karena ingin dihormati dan memiliki kekuasaan untuk mengatur sesuai keinginannya. Dalam genggagaman kekuaasaan apa pun akan terlahir jadi benar.”
“Benar macam apa jika itu yang terjadi?”
“Benar menurut yang menganggap benar. Meski terkadang batin pun menentangnya….”
“Bukankah pertentangan yang terjadi dalam batin sendiri yang membenamkan kita ke dalam perasaan gusar?”
“Ya, Ki Ageng. Termasuk di dalamnnya perasaan takut kehilangan kekuasaan?”
“Mungkinkah penangkapan guru kita terkait perasaan gusar dan ketakutan….”
“Sudahlah. Saya kira tidak hanya Syekh Siti Jenar yang akan ditangkap termasuk saya….atau juga kita….”
“Tidak adil seandainya itu berlaku pada kita.”
“Mengapa tidak adil? Bukankah sudah kita urai mengenai alasannya.”
“Jelas tidak adil jika memang itu harus terjadi,”
“Itu harus terjadi.”
“Tidak adil!”
“Apakah andika menyangka bahwa manusia itu akan selalu adil?”
“Andai hal ini terjadi saya kira tidak….”
“Percayalah pada pemilik keadilan, Dia-lah Yang Maha Adil. Sedikit pun kita dihadapannya tidak akan merasa terzalimi atau menganggap tidak adil. Dia-lah pemilik mutlak keadilan….” tidak ada raut duka, “Tidaklah mesti berharap banyak dari manusia, ketika dalam keadaan mabuk…..”
“Mabuk?”

“Ya, dalam mabuk tidaklah mudah tercipta keharmonisan batin, ucapan serta tindakan. Mungkin saja bicara ngelantur, bertindak serampangan, batinnya tertutup….”
“Tapi siapa?”
“Yang tenggelam dalam gemerlapnya hidup. Apa pun yang kita nikmati disini hanyalah sekejap saja. Tiada kenikmatan yang bisa dirasakan dalam lama. Sebab disini adalah terciptanya awal kegusaran, keresahan, kekecewaan, kesedihan. Ketahuilah saat orang tertawa hanya menunggu waktu datangnya menangis tersedu-sedu, ketika orang menggenggam erat sebuah kekuasaan tinggal menunggu kekuasaan itu berpindahtangan, cepat atau lambat. Dalam tertawa telah lupa, dalam semuanya seakan tiada berakhir. Kematian terkadang memutus mata rantai dari semuanya, meski ada pula yang sempat tersadar sebelumnya.”
“Hidup ini untuk mati, mati untuk hidup?”
“Itulah ajaran kebenaran, kemutlakan akan manusia. Milik setiap makhluk…..”
“Manusia itu memiliki awal yang sama, santapan yang sama. Yang membedakan hanyalah jumlah tumpukan makanan. Tetapi ingatlah baik orang miskin atau pun kaya menyuapkan makanan pada mulutnya hanya satu suapan. Adakah yanglebih dari itu?”
“Tidak…”
“Yang melebihi hanyalah nafsu keserakahannya. Padahal kantung perut semuanya sama, ketika kenyang nafsu makan perlahan hilang. Atau terlalu kenyang manusia akan menjadi lemah. Sama pula ketika manusia semakin tamak dan serakah…semakin pula kehilangan kekuatannya. Dalam titik lemah itulah para penunggu bersiap. Bukankah kekuasaan itu berpindahtangan ketika manusia terjebak dalam kebodohan yang telah melemahkan dirinya sendiri?”
“Adakah kaitannya dengan hidup untuk mati, mati untuk hidup?”
“Tentu, andai manusia itu dalam keaadaan sadar dan tidak bodoh….” Kebo Kenongo bangkit, “Tetapi jika manusia terlalu masuk pada persoalan ini tentu saja jagat raya tidak akan seramai sekarang. Mereka yang memahami ajaran ini akan menghindari persoalan yang menyebabkan dirinya lemah dan bodoh. Bandingkanlah ketika andika makan alakadarnya hanya untuk menepis rasa dahaga dan lapar dengan ketika andika sangat bersemangat untuk makan dan minum sebanyak-banyaknya karena takut kembali lapar? Apa hasilnya?”
“Tentu akan…”
“Tidak perlu dijawab cukup andika renungkan….”

Ki Chantulo, Ki Donoboyo beradu tatap, lalu menunduk. Kembali melempar tatapannya ke muka Kebo Kenongo. ”
Bukankah Ki Ageng sendiri bergelar Ki Ageng Pengging 2? Adipati Pengging yang berada dibawah kekuasaan Negeri Demak Bintoro. Tidaklah merasa gusar, takut kehilangan kekuasaan?”
“Mengapa andika bertanya demikian? Bukankah setelah saya bertemu dengan guru tidak tertarik lagi menjadi penguasa. Saya memilih berbaur dengan masyarakat, terutama para petani. Karena seperti saya uraikan tadi, kekuasaan itu terkadang menyeret-nyeret pada pertentangan batin. Saya lebih merasakan nikmatnya hidup ketika tidak terlalu kenyang, tidak merasa berkuasa….”
“Bukankah kekuasaan itu harapan banyak orang?”
“Ketika saya berkuasa terkadang tidak mengganggap sama dengan orang lain. Saya merasa terbebani ketika orang mengagung-agungkan, padahal perbuatan mereka itu mungkin saja tidak sejalan dengan batinnya. Mereka menghormati saya karena punya kekuasaan, meski tidak semuanya. Bayangkan ketika saya terlarut dalam pujian, artinya itulah kelengahan dan kelemahan. Bayangkan pula ketika saya sudah tidak lagi memiliki kekuasaan….”
“Belum tentu orang mengagung-agungkan? Namun tidaklah demikian, Ki. Bukankah guru kita meski pun tidak memiliki kekuasaan tetapi banyak orang yang menaruh hormat….bahkan wibawanya hampir melampaui Dewan Wali, sebagaimana halnya Ki Ageng, meski tidak lagi memegang kekuasaan orang yang mengenal tetap menaruh hormat.”
“Tadi sudah saya katakan, bukankah ada orang yang bisa terangkat dengan sendirinya dari bawah. Sebaliknya orang tetap berada di atas karena kerabat penguasa, yang lebih menyedihkan lagi, penguasa yang terjungkal dan dihinakan…” Kebo Kenongo menuruni bukit, “Bukankah manusia itu lebih menyukai kepura-puraan, ketimbang yang sesungguhnya?”

“Kepura-puraan?” Ki Chantulo mengayunkan langkah pelan mengiringi.
“Kebanyakan manusia lebih menyukai kebohongan ketimbang kejujuran…”
“Bukankah tidak berharap untuk dibohongi?”
“Tidak, tetapi disukai.” mematung di tepi jalan. “Lihat! Penunggang kuda menuju kemari…”
“Mungkinkah utusan Demak untuk menangkap kita?”
“Rasanya saya mengenal dia?”
“Dari Majapahit?”
“Bekas abdi….dia prajurit…”
“Ki Ageng,” turun dari punggung kuda seraya merunduk mengacungkan sembah.
“Bangkitlah Joyo Dento! Aku bukan lagi pejabat Majapahit,” tangannya yang lembut menarik bahu.
“Maafkan saya, Ki Ageng. Meskipun bukan lagi pejabat Majapahit tetapi saya masih menaruh hormat pada Ki Ageng selaku junjunan saya.” dengan nafas berat.
“Sudahlah,” tatapnya tersenyum lembut. “Ada apa gerangan menyambangi saya?”
“Tiada lain yang mengundang saya kemari adalah rasa cemas dan kekhawatiran.”
“Khawatir?”
“Ya, meskipun saya tahu Ki Ageng tidak lagi memiliki minat untuk menjadi penguasa. Tetapi kekhawatiran ini terdorong dengan pertalian Ki Ageng dengan kerabat Majapahit. Itu pun berdasarkan perbincangan yang berkembang dikalang pejabat dan rakyat Demak sekarang….”
“Apa?”
“Saya mendengar kabar Syekh Siti Jenar akan ditangkap. Demak telah mengirim para Wali yang berilmu tinggi ditambah lagi para perwira andalan, untuk disered dalam peradilan dengan tuduhan mengajarkan ajaran sesat dan makar. Saya tidak percaya akan semua tuduhan itu. Saya berlari kesini karena kekhawatiran saya terhadap Ki Ageng.”
“Saya memaklumi akan kekhawatiran andika. Tentu Syekh Siti Jenar dianggap tidak berdiri sendiri, kalau bukan karena antek Kebo Kenongo. Yakinlah seperti yang andika katakan itu hanya tuduhan….”
“Yang menjadi kekhawatiran Ki Ageng pun ikut disered…”
“Saya kira tidak hanya saya.” melirik ke arah Ki Chantulo dan Ki Donoboyo. “Juga…para murid Syekh Siti Jenar….”
“Untuk itulah saya berdiri disini!”
“Mengapa?”
“Tidak lain saya harus mencegahnya meskipun berkalang tanah…andai perlu pasukan akan dipersiapkan!”
“Saya sangat menghargai kesetiaan andika,” Kebo Kenongo memeluk bahu Joyo Dento. “Tidaklah mengharapkan andika sebagai tumbal penyelamat….bukan berarti meremehkan. Tetapi sadarilah bahwa manusia itu telah memiliki jalan hidup masing-masing. Jalan itu tiada lain hanya untuk memenuhi taqdir kesempurnaan menyatu dengan-Nya. Maka caranya tentu beragam, tiada lain memenuhi hikmah yang semestinya bisa diambil sebagai sebuah pelajaran.”
“Saya tidak paham dengan itu semua. Izinkanlah taqdir saya disini…”
“Tidak!” melepas pelukannya. “Andika berada dalam taqdir lain….”
“Maksud Ki Ageng?”

“Andai saya telah mengambil jalan kesempurnaan itu. Temuilah taqdirmu di Tingkir…”
“Sekarang saya harus menemui Ki Ageng Tingkir?”
“Bukan, cermatilah perkataan saya tadi. Sekarang kembalilah ke tempat andika berada.”
Sejenak Joyo Dento mencoba mengunyah setiap perkataan Kebo Kenongo, meskipun tidak semuanya bisa dicerna. Setidaknya dirinya telah mendapat pencerahan, walau masih perlu untuk diterjemahkan.
“Bangkitlah! Kembali pada takdir andika…”
“Baiklah, andai itu keputusan Ki Ageng.” setelah berpamitan Joyo Dento dengan berat hati kembali berada di atas punggung kuda, untuk kembali. Pikirannya menggasing dengan cepat berusaha menafsirkan setiap perkataan yang masih melekat ditelinganya. Kuda yang ditungganginya membawa segunduk daging dengan pengembaraan yang jauh. Melepas pikiran, hingga tak merasakan pelana, juga tali kekang dalam genggamannya.
“Ki Ageng,” Ki Chantulo memecah keheningan. “Tidaklah keliru dugaan saya masih banyak orang yang menaruh hormat dan kesetiaan. Dilain pihak penguasa pun masih memperhitungan keberadaan Ki Ageng.”
“Hehmmm…” Kebo Kenongo menghela nafas dalam-dalam.
“Benar, Ki Ageng. Seandainya keberadaan Ki Ageng bukan sesuatu yang diperhitungkan tentu pembumihangusan terhadap kita tidak akan pernah terjadi. Keberadaan Ki Ageng membuat takut tergusurnya Raden Patah dari tahta, Syekh Siti Jenar mencemaskan fatwa Dewan Wali yang takut kehilangan pengaruh dan pengikut.”
“Bukankah itu hanyalah dugaan Ki Donoboyo yang berlebihan?”
“Meskipun ini berupa dugaan, saya rasa tidak terlalu meleset.”
“Untuk apa kita menduga-duga? Bisakah kita mencapai ilmu manunggaling kawula gusti seandainya batin kita masih terusik dengan perputaran pikiran yang cemas, berprasangka, bukankah lelaku demikian itu menggunakan tenaga dan mempekerjakan batin serta pikiran untuk menggasing. Tidakah sayang seandainya pikiran dan batin ini kita satukan dalam kekhusuan untuk mencapai kemanunggalan dengan-Nya?”
Mulut Ki Donoboyo terkatup rapat. Pikirannya tergusur serta larut dalam setiap kata yang baru saja menembus gendang telinganya. Tidak hanya dirinya juga Ki Chantulo ikut hanyut menyambut serta berusaha mengolah agar bisa segera dicerna.

Ketiganya mematung di tepi jalan perkampungan Pengging, menyatu dengan hembusan angin. Nafasnya menyambangi beragam bebauan, selain pepohonan, juga lalu-lalang para petani yang beranjak dari ladang dan sawah.
Roda pedati melaju pelan ditarik sepasang kerbau, ditunggangi lelaki bertubuh gempal, tinggi besar. Matanya yang beringas kemerah-merahan memandang tajam Kebo Kenongo serta kedua rekannya.
“Haha…mungkin ini orang yang saya cari selama ini.” gumamnya. Pedati dihentikan, “He, benarkah kalian orang berjubah mengenal Gusti Alloh?” teriaknya.
“Siapa andika Kisanak?”
“Dasar orang bodoh! Ditanya malah balik bertanya,”
“Turunlah dari pedati. Kemarilah jika ingin berbincang tentang Gusti Alloh?”
“Saya bukan ingin berbincang tentang Gusti Alloh tetapi ingin ketemu Gusti Alloh kalian. Katanya orang berjubah itu memiliki Gusti Alloh. Sedangkan saya tidak…semuanya omong kosong. Tidak bisa dibuktikan orang-orang bodoh!”
“Andika tidak memiliki sopan santun malah berteriak-teriak dari atas pedati!” Ki Donoboyo mendekat, menepuk punggung kerbau. Hingga melonjak dan hendak berlari.
“Apa yang andika lakukan, keparat!?” penunggang loncat dari pedati, tersungkur di tanah.
Sepasang kerbau yang hendak berlari dihentikan dengan genggaman tangan Ki Donoboyo. Pedati pun selamat tidak sampai tersungkur. Pemiliknya merasa kaget dengan kekuatan yang dimiliki lawannya.
Perlahan bangkit serta mendekat, meski hatinya tetap meremehkan tetapi kini lebih berhati-hati, meski pun dirinya merasa bertubuh besar dan tinggi.
“Apakah kalian ini yang disebut wali songo?”
“Bukan, kami murid-murid Syekh Siti Jenar.” Ki Donoboyo berdiri tegak, matanya yang tajam menerjang sorot beringas kemerah-merahan.
“Haha…yang menganggap dirinya wali ke sepuluh. Yang paling bodoh dan tolol mengaku telah manunggal dengan Gusti Alloh, wali songo saja yang mendapat tempat dalam keluarga penguasa Demak penyembah Gusti Alloh tidak demikian.”
“Syekh Siti Jenar tidak menganggap dirinya wali ke sepuluh. Mana mungkin ada wali ke sepuluh Demak saja hanya mengakui wali songo? Tidakkah andika lebih bodoh dari kerbau…” tatap Ki Donoboyo. “…andika yang lebih dungu dari kerbau membodoh-bodohkan mereka yang berilmu. Apa mau andika sebenarnya? Siapa andika?”
“Apa iya…” pegang-pegang kepala. “Bodoh kalian….”
“Sudah diam!” geram Ki Donoboyo, “Jika ingin bertarung majulah! Percumah saja berdebat dengan andika yang teramat dungu. Bicaralah dengan kadigjayaan, ilmu apa yang sesungguhnya ingin dipertontonkan pada kami?”
“Haha, bertarung itu mudah.” dengan senyum terpaksa, “Saya hanya ingin menjajal ilmu kalian tentang Gusti Alloh.”
“Menjajal?” geram Ki Donoboyo. “Betapa angkuhnya andika, Kisanak? Bukankah sebelumnya ingin mempertontonkan kadigjayaan karena merasa paling besar di antara kami?”
“Benar, bukankah tidak salah jika usai menjajal ilmu kalian tentang Gusti Alloh baru adu kadigjayaan.”
“Jadi itu yang andika kehendaki?”
“Sebaiknya kita tidak melayaninya?” lirik Ki Chantulo.
“Haha, belum apa-apa teman kisanak sudah ketakutan.”
“Diam!” bentak Ki Donoboyo, “Bukan ketakutan tetapi harus jelas taruhannya. Karena kami tidak punya waktu hanya untuk berolok-olok dan buang-buang tenaga.”
“O, baik.” tatapnya, “Saya pertaruhkan diri saya, pedati beserta isinya juga sepasang kerbau. Sebaliknya jika andika kalah maka akan saya jadikan budak….”
“Tidakkah andika akan menyesal dengan pertaruhan itu?”
“Tidak,” lantang. “Hidup ini bagi saya tidak memiliki arti apa pun. Kesenangan apa yang belum saya lewatkan…sudah. Saya ingin bertemu Gusti Alloh hanya ingin mencari….o…tidak.”
“Mengapa?”
“Haha, kenal juga belum pada Gusti Alloh. Jangankan kenal belum tentu juga keberadaannya, saya kira itu hanyalah hayalan orang-orang semacam andika.”
“Jadi andika tidak percaya dengan keberadaan Gusti Alloh?”
“Tidak,”
“Mengapa?”
“Andai andika memberikan bukti dan memperkenalkan saya…”
“Mengapa andika beranggapan Gusti Alloh tidak ada?”
“Karena tidak pernah melihat dan bertemu dengannya…”
“Apakah jika tidak pernah bertemu dan melihat lalu dianggap tidak ada?”
“Tentu saja,”
“Andai segala ciptaannya ada? Tidakah andika lihat langit ditinggikan, tidakah andika lihat gunung-gunung tinggi menjulang, tidakkah andika perhatikan tumbuh-tumbuhan dari kering menjadi hijau dan berbuah, tidakah andika perhatikan binatang ternak berkembang biak…”
“Cukup! Saya sudah tahu semua yang andika sebutkan ada dan terlihat. Lalu apa kaitannya dengan Gusti Alloh?”
“Semua itu ciptaan-Nya.”
“Omong kosong! Bukankah semuanya terjadi dengan sendirinya?”

“Tidak ada sesuatu yang terjadi dengan sendirinya.” senyum Ki Donoboyo, “Andika memiliki pedati?”
“Ya,”
“Apakah dengan tiba-tiba ada?”
“Tentu tidak, anak kecil juga tahu. Masa pedati jadi sendiri tanpa ada yang membuat?”
“Tidak mungkin bukan?”
“Ya, iya…”
“Siapa yang membuatnya?”
“Teman saya…”
“Pedati saja dibuat teman andika apalagi bintang yang jauh di langit. Siapa yang mencipta dan meletakannya?”
“Mana saya tahu…”
“Gusti Alloh yang menciptakannya dan meletakannya di atas manzilah- manzilahnya, selain terlihat indah juga beraturan. Perhatikan pula pergiliran antara siang dan malam dalam hitungan yang tetap. Bisakah semua itu berjalan dengan tertib dan beraturan jika tidak ada yang memeliharanya?”
“Ah, masa iya?” garuk-garuk kepala.
“Perhatikan petani yang menanam padi di sawah!”
“Kita lagi berbicara Gusti Alloh apa kaitannya dengan petani?”
“Tentu, perhatikan! Petani menancapkan benih, lalu tumbuh, setelah tumbuh diperiksa tiap hari. Jika ada rumput liar yang mengganggu tanamannya dibersihkan, agar lebih bagus diberinya pupuk. Ketika padi mulai keluar dan menguning burung mengusiknya, petani pun dengan berbagai cara mengusir burung, selain itu diganggu pula kawanan tikus.”
“Dimana kaitannya dengan Gusti Alloh?”
“Tentang memeliharanya. Berbedakah andai padi tadi ditelantarkan petani?”
“Tentu saja,” dahinya berlipat.
“Begitu juga bintang, bulan, matahari, serta keberaturan siang dan malam dipelihara Gusti Alloh. Jika tidak dipelihara tidak akan tertib, kemungkinan besar saling bertabrakan dan hancur….”
“Apa iya?” telunjuknya ditempelkan dikening. “Jika manusia yang menciptakan itu semua rasanya tidak mungkin? Membuat bulan dan bintang lalu ditempel dilangit….mengatur siang dan malam….”
“Ya, Gusti Alloh itulah yang menciptakannya. Alloh itu bersifat wujud, ada. Bukti akan adanya Alloh itulah ciptaannya…”
“Tapi ‘kan tidak kelihatan Gusti Alloh itu? Artinya tidak ada.”
“Apakah setiap sesuatu yang tidak bisa dijangkau dengan penglihatan bisa dibilang tidak ada?”
“Tentu saja. Bukankah setiap ada itu utamanya terlihat…”
“Percayakah bahwa angin itu ada?”
“Percaya,”
“Bukankah tidak bisa dilihat?”
“Benar juga ya,” lalu menatap dedaunan yang bergerak-gerak diusik angin senja. “Tapi ‘kan angin bisa dirasakan meski pun tidak terlihat. Kulit saya merasakan dinginnya?”
“Baiklah,” Ki Donoboyo tersenyum, lengannya memetik kembang melati. “Coba cium bungan ini?”
“Ya, harum. Namanya juga bunga melati.”
“Terlihatkah harum itu?”
“Tentu tidak, tapi ‘kan hidung bisa merasakannya.”

“Baiklah. Indahnya pegunungan bisa andika jangkau dengan penglihatan, adanya angin bisa andika rasakan dengan kulit, harumnya bunga bisa andika tangkap dengan penciuman…”
“Ya, tentu karena ada.”
“Bukankah menurut andika yang ada itu hanya bisa dijangkau dengan penglihatan?”
“Awalnya memang begitu, ternyata tidak selalu bisa dijangkau dengan penglihatan seperti yang andika katakan tadi. Bisa juga yang ada itu cukup dirasakan dengan kulit atau penciuman.” alisnya dinaikan. “Mengapa? Apa kaitannya dengan Gusti Alloh?”
“Mata memiliki keterbatasan dalam menjangkau pandangan. Jika mata tidak bisa menjangkau angin tentulah kulit merasakannya, andai keduanya tidak maka penciumanlah yang menjangkaunya. Perhatikan dari ke tiga indra tadi, semuanya memiliki keterbatasan dan kemampuan yang tidak terlampau hebat. Perhatikan dibukit sana para petani yang turun gunung tampak mulutnya komat-kamit artinya sedang berbincang dengan temannya. Bisakah kita mendengar atau hanya mampu menjangkau gerakan mulutnya dengan tatapan mata menunjukan mereka sedang berbincang?”
“Tidak terdengar perbincangannya karena jauh, tetapi mata menangkap mereka sedang berbincang satu sama lain. Maksud andika?”
“Saya hanya ingin menjelaskan betapa terbatasnya kemampuan pancaindra kita. Bukankah andika ingin melihat Gusti Alloh? Angin saja sebagai salah satu ciptaannya tidak bisa dijangkau mata, bahkan memandang sifat harumnya bunga pun tidak sanggup. Obrolan petani yang di atas bukit bisa ditangkap gerak bibirnya dengan mata tetapi sayang pendengaran tak sanggup menjangkaunya karena jauh. Sangat terbatas dan lemah pancaindra kita ini bukan?”
“Ya, tapi adakah Gusti Alloh itu?”
“Tentu ada, bukankah ciptaannya ada.”
“Jika ada mengapa tidak terlihat?”
“Haha, belum paham juga rupanya. Jika ingin memandang Gusti Alloh coba pandang dulu ciptaan-Nya yang berupa angin dan sifat harumnya bunga!”
“Mana mungkin itu bisa dilakukan, bukankah pancaindra ini kemampuannya terbatas?”
“Jika merasa kemampuan pancaindra andika terbatas, jangan coba-coba menjangkau yang diluar batas. Perhatikan serta pikirkan dulu ciptaan-Nya, sebelum mengejar yang menciptakan-Nya!”
“Bingung?” memijit-mijit kening.
“Mengapa harus bingung?”
“Tidak bisa melihat Gusti Alloh.”
“Bukankah angin juga tidak bisa andika lihat?”
“Ya, tapi bisa dirasakan. Gusti Alloh selain tidak terlihat juga tidak bisa dirasakan dan dicium baunya?”
“Bukankah petani yang berbincang di atas bukit hanya bisa andika tangkap komat-kamit mulutnya tetapi telinga tidak bisa menangkap apa yang dibicarakannya?”
“Ya, memang. Meski pun tidak bisa dijangkau tetapi jelas keberadaannya, sedangkan Gusti Alloh?”
“Bukankah pancaindra itu memiliki keterbatasan? Mana mungkin yang memiliki keterbatasan itu bisa menjangkau yang berada di luar batas..”
“Lantas benarkah Gusti Alloh itu ada?”
“Lihatlah ciptaannya! Bukankah tidak ada benda yang bisa terjadi dengan sendirinya tanpa diciptakan? Bukankah andika meyakini tidak mungkin manusia sanggup membuat bintang dan meletakannya di langit?”
Lelaki bertubuh gempal sejenak merenung, pikirannya mulai mengunyah setiap perkataan Ki Donoboyo. Kunyaahan–demi kunyahan–satu persatu dicobanya untuk dicerna, sangat teliti serta hati-hati. Tidak ingin keliru dalam memahami—lalu memperbandingkan keterbatasan indra dengan akal pikirannya—-terkadang alisnya naik, dahinya berkerut tiga.

“Percaya, Gusti Alloh itu ada,” lelaki itu memecah keheningan. “Hanya sayang saya memiliki keterbatasan dalam menjangkaunya?” raut mukanya kecewa dan sedih.
“Mengapa andika percaya akan adanya Gusti Alloh?”
“Saya telah berpikir bolak-balik apa yang andika uraikan tadi, sehingga saya berkesimpulan; Gusti Alloh itu ada—karena tidak mungkin ada ciptaan-Nya jika tidak ada yang menciptakannya, saya tidak bisa menjangkau Gusti Alloh karena keterbatasan pancaindra. Hanya orang bodohlah yang tidak percaya! Karena saya memiliki akal maka akan terus memikirkannya…seperti halnya tidak mungkin pedati yang saya bawa tiap hari dengan tiba-tiba ada di rumah tanpa pengerjaan teman saya.” menunduk, “terkadang tersirat dalam benak saya kalau Gusti Alloh itu hanya hayalan orang-orang macam andika. Akibat terlalu jauh memasuki alam hayalan tentang keberadaan-Nya hingga andika semua percaya, juga beranggapan Dia memiliki kekuatan…”
“Rupanya pikiran semacam itu masih mengganggu benak andika?”
“Terkadang berulang-ulang melintasi kekurang pahaman akal pikiran saya. Hingga mengganggu saya untuk berkeyakinan mengenai keberadaan Gusti Alloh…” keluhnya.
“Baiklah,” Ki Donoboyo tersenyum. “Percayakah andika tentang perkara ghaib?”
“Apa itu ghaib?”
“Sesuatu yang tidak bisa dijangkau pancaindra,”
“Tidak, saya hanya percaya segala sesuatu yang nampak saja serta bisa dirasakan indra.”
“Percayakah andika akan ruh?”
“Apa itu ruh?”
“Yang bersarang dalam jasad wadak setiap makhluk hidup termasuk manusia.”
“Jasad wadak?”
“Ki Donoboyo,” tatap Kebo Kenongo.
“Ya, baiklah, Ki Ageng.” Ki Donoboyo menganggukan kepala. “Kisanak, rupanya perbincangkan kita untuk kali ini cukup. Pikirkanlah hingga akal andika mencerna serta melumatnya dengan baik.”
Ketiga murid Syekh Siti Jenar beranjak tiada menghiraukan orang yang terjebak dalam kebingungan, memikirkan setiap perkataan Ki Donoboyo.
“Ki Ageng, mengapa kita meninggalkan dia?”
“Biarkanlah mencerna dulu.” senyum Kebo Kenongo. “Andai saja keingintahuannya kuat serta terpahami yang baru saja andika sampaikan, tentulah dia akan kembali mencari kita.”

Perkampungan Pengging semakin larut dalam untaian irama senja, para petani sudah kembali dari ladang dan sawah arungi jalan yang berkelok-kelok dinaungi bayang-bayang keemasan.
Ketiga murid Syekh Siti Jenar beriringan melintasinya, menuju gubuk kecil
di sudut perkampungan. Tiada lagi bayangan Kadipaten Pengging yang penuh
dengan kemegahan serta serba berkecukupan, semuanya telah dijauhi. Mereka
dalam kemegahan menganggap hanya berlari dari satu kemegahan pada kemegahan berikutnya, tiada akhir. Lalu kapan berupaya, berpikir, untuk
mendekatkan diri pada Maha Penguasa, Gusti Alloh. Seandainya mereka
beranggapan kemegahan itu sebagai penghalang.
“Tunggu!” dengan pedati mengejar. Loncat menghadang langkah ketiganya.
“Apalagi?” tatap Ki Donoboyo. “Bukankah andika sudah percaya tentang
keberadaan Gusti Alloh?”
“Ya, artinya saya telah kalah taruhan. Pedati berserta isinya, juga diri
saya sudah dipertaruhkan. Ambilah semuanya!”
“Saya mengajarkan ilmu bukan mengejar kepeng atau urusan duniawi, juga
bukan untuk memperbudak sesama.”
“Perlu dicamkan! Para murid Syekh Siti Jenar menyebarkan ilmu dan ajaran
bukan mengejar; tahta, harta, wanita, kepeng. Kami menyebarkan ilmu tidak
lain untuk bersama-sama memasuki cahaya pencerahan agar menjadi rahmat
bagi seluruh alam, hama mayu hayuning bawana, serta mendekatkan diri pada
Gusti Alloh. Untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat serta menuju
ketenangan bhatin.” timpal Ki Chantulo.
“Heran?” gumamnya.
“Kenapa?”
“Baru kali ini saya menemukan orang-orang macam andika? Tidak tertarik
pada harta, tahta…mungkin andika hanya memandang pedatinya, memang
tidak berbeda jauh dengan pedati milik rakyat kebanyakan. Pedati ini
isinya berbeda, bukanlah tumpukan jerami kering atau kayu bakar semata.
Isi pedati ini lebih berharga dari kereta kencono milik keraton.”
“Maksud andika?”
“Ya, saya hanya menduga. Pedati dan isinya bukan barang berharga?” loncat
lagi ke atas pedati, kedua tangannya perlahan membuka tumpukan jerami
kering dan kayu bakar yang memenuhinya. “Lihatlah, Kisanak!” teriaknya.
“Emas,” gumam Ki Chantulo lirih.
Batangan emas memenuhi gerobak pedati, cahayanya semakin memancar beradu dengan lembayung. Tiada terhitung berapa batang emas yang
tersimpan, sebelumnya tertutup tumpukan jerami kering dan kayu bakar.
“Emas ini cukup untuk membangun sebuah istana Kadipaten, belum lagi yang
tersimpan di tempat penambangan. Tidakkah andika tertarik?” tatapnya.
“Tidak!” geram Ki Donoboyo.
“Jika andika merelakannya? Berikanlah pada fakir-miskin serta mereka yang
kelaparan. Kami sudah menghindari gemerlapnya kepalsuan. Tahukah andika
kepalsuan?” tatap Kebo Kenongo.
“Maksudnya?”
“Apa yang telah andika dapatkan dari batangan-batangan emas itu?”
“Segala keinginan bisa ditukar dengan ini. Wanita, rumah, makanan,
minuman memabukan, banyak lagi.”
“Bahagiakah andika dengan semua itu?”
“Tidak saya rasakan apa pun, kecuali perasaan sakit hati andai tidak
melampiaskannya. Wanita, tidak lagi menjadi nikmat saking seringnya bergonta-ganti. Makanan apalagi yang belum saya nikmati, nikmatnya sudah
tidak ada yang aneh. Minuman apalagi….ya saya akhirnya merasa bosan.
Bukankah saya pernah mengutarakannya pada andika.”
“Itulah kepalsuan.” senyum Kebo Kenongo, “Perempuan ketika sudah memiliki
perhiasan mungkin hanya diletakan dipergelangan tangan atau leher, setelah itu merasa bangga. Berharapan orang lain melihat serta memuji-mujinya. Setelah itu selesai. Cukup sampai disitu. Itu pun andai ada yang memujinya.”
“Kepalsuan?”
“Sesuatu yang palsu itu tidak akan pernah memuaskan bhatin kita. Lebih menyakitkan lagi ketika angan-angan itu semakin tidak bertepi, bahkan tak berujung. Entah kapan selesainya—andai tidak pernah menemukan
penyelesaian—-maka rasa penasaranlah yang semakin bertaburan.”

“Benar itu, Kisanak.” tatapnya. “Mengapa batangan-batangan ini tidak pernah membuat saya puas. Hanya pada awalnya kepuasaan itu tiba—setelah menjadi kebiaasan dan bukan lagi hal aneh semuanya tinggal gapaian angan-angan, semakin hari semakin menggunung. Semakin dikejar-semakin tak berasa. Semakin banyak yang tersimpan semakin dalam disembunyikan—semakin ketakutan diketahui orang yang memiliki niat merampoknya. Hingga saya memutuskan untuk melenyapkan semuanya—karena membuatnya saya bersusah payah mencurigai banyak orang, termasuk mereka yang pernah saya beri kepercayaan untuk menjaganya. Terkadang timbul pikiran, tentu pada suatu saat akan berhianat. Meski pun sebetulnya mereka setia. Perasaan takut dihianati selalu menghantui.”
“Bukankah ketika bersyahwat untuk memiliki sesuatu akan selalu mengejarnya, hingga yang diinginkan itu teraih. Maka ketika telah tercapai bukankah hanya sesaat merasakan bangganya atas capaian tadi, setelah itu biasa lagi.”
“Ya, puncaknya seperti yang saya kemukakan tadi.” menumpuk kembali jerami dan kayu bakar di atas batangan emas dalam pedati. “Mengapa kisanak tidak menginginkan kekayaan seperti kebanyakan orang?”
“Saya tidak ingin terjebak dalam kepalsuan dan kebodohan.”
“Ketahuilah Kisanak!” potong Ki Chantulo. “Tahukah andika siapa yang sebetulnya diajak bicara?”
“Bukankah andika ini para muridnya Syekh Siti Jenar?”
“Benar, tetapi yang saya maksud, beliau!” menunjuk dengan lirikkannya. “Beliau ini Ki Ageng Pengging…”
“Saya tahu kalau nama itu. Bukankah Ki Ageng Pengging itu seorang Adipati, lihatlah kemegahan bangunan kadipaten serta kekayaannya. Mengapa Ki Ageng yang saya kenal sangat bersahaja?”
“Beliau telah melepaskan diri dari kemegahan, harta, serta tahta.”
“Sudahlah, Ki Chantulo.” tatap Kebo Kenongo.
“O, andai demikian saya baru paham akan Ki Ageng. Pantas memahami apa yang saya rasakan. Tidak salah rasanya saya belajar hidup miskin…”
“Miskin dan bersahaja itu berbeda, Kisanak.” timpal Ki Donoboyo.
“Apa perbedaannya?”
“Orang yang merasa miskin itu akan selalu memiliki perasaan kurang dan kurang, sehingga terus berusaha memperkaya diri. Meskipun secara kasat mata telah memiliki segalanya.”
“Benar yang andika katakan. Saya pun tidak pernah merasa puas meskipun kata orang memiliki segalanya. Makanya sekarang saya ingin seperti kalian meskipun tidak kaya tetapi tampak bahagia. Benarkah itu?”
“Ketahuilah, bahagia itu fitrah setiap manusia. Sedangkan tahta, ilmu, dan kekayaan tidak dimiliki setiap orang. Andai saja andika memiliki dari ketiga hal atau salah satunya, tetapi tidak merasakan bahagia, padahal bahagia itu fitrah setiap manusia. Maka perlulah bersedih.” terang Kebo Kenongo. “Bukan kemiskinan yang perlu ditangsi, belum tentu yang menurut andika miskin hatinya tidak bahagia?”
“Lalu mengapa orang mencari itu semua?”
“Mereka mengejar kakayaan ingin bahagia. Padahal ilmu, harta, tahta bukan sumber bahagia. Tetapi alat untuk jadi bahagia. Yang namanya alat andai tidak tepat menggunakannya, mungkinkah bisa dirasakan manpaatnya?”
“Tidak,”
“Ya, itulah yang terjadi.”
“Benar, Ki Ageng.” turun dari pedati, berjalan beriringan, tangannya memegang tali kekang. “Saya akhirnya tidak heran andai Ki Ageng melepas jabatan. Ketika orang memiliki jabatan ditangannyalah segala kebijakan. Bebas berbuat sekehendak hati, kekuasaan bertumpu pada tangannya. Siapa yang akan berani menentang? Meski berusaha keras untuk mendapatkan segalanya, bermegah-megah, berpoya-poya sekali pun.”
“Ingatlah, prilaku demikian bisa merugikan rakyat.” lirik Ki Donoboyo.
“Maksudnya?”

“Ketika sang raja merasa sangat berkuasa, sudah tentu akan menghalalkan segala cara demi terlaksananya setiap jengkal keinginan. Rakyat akan menderita dan semakin miskin. Dari mana lagi mereka mendapatkan kekayaan kalau bukan dengan jalan menekan rakyatnya; upeti akan dinaikan berkali lipat, wanita persembahan, yang menentang akan dibungkam.”
“O, demikiankah? Artinya penguasa itu telah mengambil hasil keringat rakyatnya sendiri demi kemakmuran dirinya dan sesamanya. Apa yang diberikan mereka pada rakyat?”
“Coba apa yang andika rasakan sekarang?”
“Tidak ada rasanya. Saya memiliki emas ini hasil keringat saya beserta pengikut setia. Rakyat jelata bisa makan dan minum hasil keringat sendiri dengan jalan bercocok tanam, selain berdagang.” lelaki itu gelengkan kepala. “Benar sangat Ki Donoboyo. Mereka yang bergelimang kekayaan di balik tembok megah dan angkuh hanya bisa berkelakar. Apa sesungguhnya yang mereka perbuat hanyalah untuk kesenangan raja beserta pengikut setianya. Di luar istana masih banyak rakyat melarat, kelaparan.”
“Itulah arti kekuasaan.” geram Ki Chantulo. “Sangat maklum andai Ki Ageng Pengging melengserkan diri.”
“Sudahlah Ki Chantulo.” lirik Kebo Kenongo. “Itu sudah menjadi tekad saya untuk hidup berbaur dengan rakyat tanpa tembok pembatas. Yang telah membatasi saya dengan rakyat untuk berbagi. Menjauhkan saya serta terciptanya jarak yang memaksa rakyat untuk menghormati saya, dipisahkan pula dengan hak istimewa, raja harus dibentengi para pengawal. Padahal apa istimewanya saya di hadapan Gusti Alloh seandainya tidak bisa membantu mensejahterakan rakyat, apalagi rakyat semakin menderita gara-gara saya berkuasa. Lalu bagaimana ketika saya harus berhadapan dengan rakyat dalam pengadilan Alloh?” menarik napas dalam-dalam.
“Saya tidak paham dengan apa-apa yang kalian perbincangkan.” lelaki itu memijit-mijit keningnya. “Saya masih harus banyak belajar dari kalian tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang begitu mulia. Pendapat saya.”
Sejenak hening, desir angin mengusik dedaunan, menggerak-gerakan jubah ketiga murid Syekh Siti Jenar. Roda pedati, beradu keras dengan suara terompah mereka. Semakin mendekati gapura perkampungan Pengging, dari jarak belasan tombak wajah sederhana telah tampak. Gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu, bertiang kayu, beratap anyaman daun kelapa yang dilapisi jerami tersusun rapih.
“Sangat sederhana,” gumam lelaki brtubuh gempal. “Tidakkah penduduk kampung ingin menjadi orang kaya?”
Belumlah kering mulut lelaki gempal, mata mereka berusaha ingin menangkap kelebatan bayangan. Gerakannya menyatu dengan angin senja, warna lembayung jingga membungkus jubah merahnya yang semakin menyala. Tubuh ramping, ceking berbalut jubah longgar semakin mendekat berjarak beberapa anak panah.
Dalam jarak dua anak panah berhenti, sorot mata tajam menancap pada mereka, sejenak terpaku dalam tatap. Hanya Kebo kenongo yang menandingi, tiap pendaran ketajaman dapat dipatahkan, berkeping-keping.
“Ki Ageng,” meleleh. “Ilmu bhatin Ki Ageng meluluhlantakan semuanya. Saya tidak sanggup lagi menembus dinding bhatin yang Ki Ageng tanam.”

“Selamat datang, Ki Lontang.” tatapnya menyejukan. “Tidak juga, malah kisanak yang tidak pernah berubah selalu ingin mendalami bhatin orang lain. Tampaknya kisanak dalam keadaan marah memasuki Pengging?”
“Ki Ageng, bisa menembus bhatin saya. Kenapa saya tidak?” gelengkan kepala. “Saya selalu berada dibawah Ki Ageng.”
“Siapa dia Ki Ageng?” tatap lelaki bertubuh gempal.
“Ki Lontang teman seperguruan kami.”
“Saya kira bhatin Ki Ageng telah maphum. Datangnya saya ke Pengging tentu saja dalam keadaan marah dan berapi-api, mengapa tidak? Saya mendengar kabar Syekh Siti Jenar akan ditangkap orang-orang Demak Bintoro, utusan Raden Patah. Sudah selayaknya saya sebagai muridnya marah besar!” geramnya.
“Bukankah baru akan?”
“Ya,” tangan bergetar, mata menyala. “Mereka tidak menghargai guru menginjak-nginjak martabat sesama. Tidakah mereka ingin saya lumat dengan pukulan gelap Ngampar!” kepalan tangannya diayunkan ke arah batu seukuran anak kerbau yang bertengger di tepi jalan.
Terlontar bola api disusul suara ledakan dahsyat yang meluluhlantakan menjadi kepulan debu, tertiup angin. Lelaki bertubuh gempal tidak berkedip, mulut melongo, tubuh menggigil. Berbeda dengan para murid Syekh Siti Jenar lainnya tidak terusik.
“Haruskah mereka saya lumat laksana debu?”
“Apakah pertanyaan itu untuk saya ataukah untuk Ki Lontang sendiri?”
“Ki Ageng, mengapa melempar pertanyaan demikian?”
“Bukankah setiap orang bertanya membutuhkan jawaban?”
“Tentu saja,” dahinya berkerut tiga. “Pertanyaan itu saya tujukan pada Ki Ageng dan rekan seperguruan.”
“Jika itu tertuju pada saya, maka saya tidak akan bersikap seperti Ki Lontang.”
“Tidak melakukan pencegahan dan perlawanan?”
“Tentu saja,”
“Bukankah beliau guru kita. Sudah selayaknya menuntut bela dan melakukan perlawanan.”
“Itu yang saya maksud pertanyaan tadi. Saya sudah menjawab, berikutnya Ki Lontang sendiri yang menjawab.”
“Ki Ageng?” dahi berkerut tiga dipijit-pijitnya. Mulai larut pikirannya dalam setiap ucapan Kebo Kenongo.
Semuanya belumlah beranjak beberapa tombak dari muka gapura perkampungan Pengging. Kebo Kenongo menghargai perjalan pikiran Ki Lontang yang mencari ujung penyelesaian, Ki Donoboyo, dan Ki Chantulo sebatas menghormati. Hanya lelaki bertubuh gempal yang tidak terlalu paham perilaku mereka.
“Jadi Ki Ageng tidak akan datang ke Khendarsawa untuk melakukan pembelaan terhadap guru, serta melumat para utusan Demak termasuk di dalamnya anggota wali songo?”
“Tidakah Ki Lontang memahami bhatin guru?”
“Maksud, Ki Ageng?”
“Bukankah guru itu manunggaling kawula gusti?”
“Ya,”
“Jika Ki Lontang mendalami itu saya rasa maphum?”

“Ah, bhatin saya belumlah sehebat Ki Ageng. Tidak mengapa seandainya Ki Ageng dan lainnya tidak ke Khendarsawa, izinkanlah saya.” berbalik tanpa menunggu jawaban, berkelebat menyatu dengan angin senja.
“Secepat angin?” gumam lelaki bertubuh gempal tak berkedip.
Ki Canthulo dan Ki Donoboyo melempar tatap ke arah Kebo Kenongo, setelah
Ki Lontang menghilang dari pandangan.
“Ikutilah Ki Lontang andai andika berdua tertarik untuk itu,”
“Tindakan Ki Lontang sempat menggoyah batin kami. Haruskah berbuat yang serupa atau cukup disini menyertai Ki Ageng?”
“Andika telah memiliki ilmu yang sama. Ragukah akan ilmu dan batin andika?”
“Kami tidak meragukan ilmu. Mungkinkah keraguan yang kami dapatkan karena tarap pencapaian ilmu belumlah seperti Ki Ageng. Batin ini terhalang, mata hati tertutup rapat.”
“Lenyapkan keraguan dalam batin andika. Ikutilah kehendak mata hati, gunakanlah ilmu itu sebagai alatnya.”
“Kiranya kami belum sanggup menggunakannya.”
“Semuanya akan terjawab andai andika tepat menggunakannya.”
“Terangkanlah sedikit alasan Ki Ageng tidak mengikuti jejak Ki Lontang?”
“Bukankah saya telah menjelaskan jauh sebelum Ki Lontang datang?”
“Ya, mengikuti batin dan ilmu. Tetapi batin kami sumpek?”
Kebo Kenongo melangkah pelan, mereka mengikuti. Pintu gerbang perkampungan Pengging telah tercapai.
“Tahukah andika tentang kematian Srinalendra Kresna, Resi Drona, ataukah
Resi Bisma dalam Mahabharata parwa perang Bharatayuda?”
“Bukankah kami pernah menyaksikan lakonnya yang dibawakan Ki Ageng Tingkir waktu mendalang.”
“Saya ingat.” timpal Ki Chantulo, “Srinalendra Kresna telapak kaki kirinya kena panah saat bertapa, Resi Drona menjemput kematiannya sambil duduk di medan perang Kuru Setra namun pedang Dresta Jumena membabat lehernya padahal beliau sudah mati, dan Resi Bisma sekujur tubuhnya tertusuk ribuan anak panah, kematian beliau sesuai keinginannya…”
“Saya tidak mengerti apa yang andika semua perbincangkan?”
“Kisanak, maksudnya ketiga orang tadi bisa mengatur kematian dan tahu darma serta karmanya…” jelas Ki Chantulo.
“O,” lelaki gempal gelengkan kepala. “Hebat sekali, adakah ajaran Syekh Siti Jenar demikian?”
“Syekh Siti Jenar adalah sosok yang telah memahami hakikat hidup, terang akan makna taqdir, batinnya tajam melebihi ujung pedang…”
“Saya tidak paham apa yang andika katakan?” gelengkan kepala.
Ki Chantulo belumlah kembali berujar, kepalanya menunduk,lalu mendongak
pelan. Batinnya, mungkinkah orang yang baru saja percaya akan adanya
Tuhan bisa memahami ilmu yang bertingkat tentang hakikat? Sementara
mengenal juga baru akan?
“Mengapa andika diam?” liriknya.
“Nanti kita lanjutkan,” langkahnya mendahului. “Lagian kita sudah memasuki Perkampungan Pengging. Tidakkah andika merasa lapar dan dahaga?”
“Tentu saja.”
Mereka memasuki pekarangan gubuk yang berukuran tujuh belas tombak persegi. Para petani yang telah berpakaian bersih berdatangan dan menghamparkan tikar pandan. Ki Donoboyo menuju pancuran air bambu di selatan pekarangan, dibelakangnya Ki Chantulo mengiringi. Lelaki gempal kebingungan setelah menambatkan pedati di luar halaman.
“Apa yang akan mereka lakukan?” liriknya.
“Mereka akan melakukan salat Magrib berjamaah.” terang Kebo Kenongo yang
masih berdiri disampingnya.
“Salat?” dahinya berkerut-kerut.
“Syariat Islam yang hukumnya wajib bagi penganutnya. Apakah andika mau
bersama-sama mendirikannya?”
“Tidak.” dahinya semakin berkerut. “Belum mengerti, jika Ki Ageng ingin silahkan! Saya sebaiknya menunggu di sini.” lalu menepi, duduk di atas batu.
Kebo Kenongo, berlalu dari hadapannya. Mengambil air wudu seusai kedua teman sepergurunnya. Tidak lama berselang azan Magrib dikumandangkan, membelah bayang-bayang jingga keemasan di langit barat perkampungan Pengging.
Lelaki bertubuh gempal tidak melepas tatapannya, batinnya tidak henti bicara tatkala menyaksikan perilaku Kebo Kenongo beserta para penduduk Pengging. Hingga selesai.
“Ki Ageng Pengging ternyata masih memiliki pengikut setia yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka masyarakat miskin, petani sederhana. Mengapa tidak tertarik akan tahta juga harta? Sungguh aneh sosok ini? Meninggalkan Istana Kadipaten hanya karena ingin berbaur dengan para petani miskin. Rasanya tidak mungkin berbuat seperti ini jika tanpa tujuan?” gumamnya. “Mereka juga begitu patuh, bahkan mengikuti setiap gerakan Ki Ageng. Meskipun Ki Ageng harus menungging mencium tanah. Aneh?”
Usai salat Magrib Ki Chantulo yang berada di shaf terdepan berbisik pada Kebo Kenongo selaku imam.
“Haruskah saya menjawabnya?”
“Belumlah saatnya.”
“Bukankah Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu tidak pernah mengenal tahapan?”

“Andai kita beliau ya bukan soal. Menurut hematku apa yang Ki Chantulo lakukan sudah tepat.” kembali berbalik.
Lelaki bertubuh gempal mendekat, kiranya ingin larut dalam pembicaraan yang belum tuntas.
“Ki Chantulo,”
“Saatnya kita menikmati masakan Nyi Ageng.” tatapnya. “Mari!” lalu diajak memasuki serambi.
Kebo Kenongo berdiri, menyampaikan ajaran Syekh Siti Jenar di depan warga Pengging yang telah usai menjalankan salat Magrib berjamaah.
Lekaki bertubuh gempal melahap hidangan nasi putih dengan lauk-pauknya berupa ikan bakar disertai Ki Chantulo. Telinganya berusaha pula menyerap setiap ceramah Kebo Kenongo di depan pekarangan dengan suara tenang, lantang, dan mudah dicerna. Meskipun tidak semuanya mampu dipahami dengan keterasingannya, persoalan-persoalan yang baru didengar.
“…tiada seorang pun manusia yang bisa luput dari kematian,” berhenti sejenak. “Sadarilah, kematian itu akan menjemput siapa saja tanpa pandang bulu. Malaikat maut tidak akan melihat siapa yang harus dihadapi. Ketika waktunya telah tiba maka orang yang dikehendakinya akan terkapar tanpa nyawa. Berhargakah manusia jika tidak memiliki nyawa?”
“Tidak!”
“Dapatkah kerabat, sanak saudara, atau orang yang dicintai menghidupkan kembali?”
“Tidak!” kembali sahut yang hadir.
“Meskipun dia seorang penguasa, saudagar, bahkan siapa saja tidak bisa menangkal maut. Maut akan merenggut siapa saja, kapan saja, dimana saja. Dimana harta, tahta keluarga yang kita banggakan dan sombongkan saat itu berada? Bisa saja berada disampingnya, bahkan memeluknya, tetapi tidak berdaya menghadapi ketentuan Alloh. Mereka yang mencintai dan menyayangi hanya bisa menangis sekeras-kerasnya. Tangis itu tidak sanggupmengembalikan ruh yang telah lepas dari jasadnya. Ruh itu mengembara ke alam lain untuk mempertanggungjawabkan hidup itu sendiri, ketika berada di alam jasad. Alam barzah bukanlah tempat untuk kembali merajut kebaikan, mengumpulkan amal kebaikan, tetapi tempat penantian yang sangat panjang menjelang manusia kembali di bangkitkan menuju akhirat.”
“Bagaimana keadaan keluarga dan harta yang kita tinggalkan?”
“Ingatlah, ketika manusia mati yang mengantar jenazah ke liang lahad
ada tiga; pertama keluarganya, kedua harta bendanya, dan yang ketiga
amal perbuatannya. Ketahuilah yang dua itu akan kembali bersama
rombongan ke rumahnya, yaitu; keluarga, dan hartanya, yang tinggal
dan menyertainya hanyalah amal perbuatan. Keluarga sekali pun sangat
mencintai tidaklah mungkin akan ikut masuk ke liang lahad, harta juga
tidak. Andai memaksakan harta itu harus dimasukan ke dalam kubur,
adakah manfaat dan madharatnya?”
“Tidak, hanya akan dicuri orang.”
“Tetapi amal perbuatan itu tidak tampak yang jelas akan menyertainya di alam kubur. Bukankah amal perbuatan itu hasil jerih payah ketika manusia berada di alam jasad? Andai itu baik, maka akan menjadi kebaikan pula di sana, sebaliknya andai tidak baik akan berakibat buruk pula.”

“Jadi hidup ini untuk mati, mati untuk hidup?”
“Ya, hidup ini untuk mati. Ketahuilah ketika manusia menyia-nyiakan hidupnya di alam jasad adakah amal perbuatan baik yang dibawanya? Yang diperintahkan dalam ajaran ini bukanlah berlomba-lomba mengejar jabatan atau meraih kekayaan, berlombalah dalam kebaikan. Jadilah rahmat bagi segenap alam, hamma mayu hayuningbawana. Ketika orang menebar kebaikan pada sesamanya, saat hidup, lalu memberikan manfaat kepada sesamanya. Bukankah setiap jengkal kebaikannya akan selalu disebut orang? Orang-orang akan mengingat dan mengenangnya.”
“Bahkan merindukanya….” selanya.
“Nah, carilah. Agar kita selalu dirindukan orang. Tiada lain itu tadi hamma mayu hayuning bawana. Kemana pun di mana pun, kita akan selalu dirindukan. Ketiadaan kita dinantinya, ketidakhadiran kita ditunggunya, keberadaan kita menentramkannya. Sebaliknya penabur kedzaliman, kejahatan, tidaklah mungkin dirindukan. Orang akan menjauh. Menyingkir, menghindari. Kehadirannya tidak diharapkan, kemunculannya menebar rasa takut. Ketiadaannya sudah tentu diharapkan. Mereka mensyukuri ketiadaannya….” Kebo Kenongo mengakhiri pembicaraan. Ketika tampak seekor kuda memasuki sudut pelataran.
“Permisi!” prajurit Demak mendekat.
“Ada apa?”
“Andikakah yang bernama Kebo Kenongo?”
“Ya,”
“Hati-hatilah! Saya hanya mengingatkan, entah tindakan selanjutnya?”
“Hanya itu pesan yang Kisanak bawa?”
“Ya, permisi!” matanya menerabas masuk ke dalam serambi. Sejenak menyentuh tubuh lelaki bertubuh gempal yang asik menyantap hidangan.
“Heh,” lelaki bertubuh gempal menoleh. Tatapannya beradu. Lalu membelakangi.
“Ki Kebo Kenongo,” kembali menoleh dan pergi.
“Silahkan!”
“Hey, prajurit!” seseorang berteriak, bangkit.
“Sudahlah!” Kebo Kenongo mengangkat telapak tangan.
“Siapakah dia, Ki Ageng?” Ki Donoboyo mendekat.
“Prajurit Demak!”
Bersambung…..

3 pemikiran pada “Syekh Siti Jenar Menyatu dengan Dzat (Ajal) 2

  1. Mohon maaf mas, bisa dijelaskan bagaimana proses penyatuan Syekh Siti Jenar dengan Zat Allah. Bukankah Allah dalam surat Al_ikhlas dikatakan tidak menyerupai sesuatu di dunia ini.

  2. Assalamu’alaikum pak nuredisantosa .
    Kisahnyang sangat bermakna dan dapat menambah ilmu bagi saya yang sedang belajar ini..
    Saya harap dan tunggu kisah selanjutnya pak..

    Salam santun 🙏

  3. Terimakasih….sarat dg pelajaran…..smg slalu dlm ridho Allah swt…amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s